peRcik-anRacun

Hanya-lah senyawa yang berkait-simpul dalam kata, mencoba meracik makna keterpengaruhan dengan menamainya sebagai “racun”. Dan, tetap percaya kalau ke-tabu-an hanya berlaku di dalam konsepsi alam pikiran. Sedang, arah pemaknaan adalah daulat, bagaimana kita membaca, memaknai dengan sudut dan sorot pandang lain.

Bisa saja suatu pertautan kata itu beralir tanpa alur, mengalur tanpa alir, entah itu puisi, entah prosa yang jelas inilah komposisi yang entah, yang bisa diambil dari taik, kotoran babi, comberan, amis bau kencing, sampai ke wangi kesturi dari mulut yang tak menyantap pasta gigi seharian penuh. Kata hanya terkumpul, maknalah yang diciptakan dalam kepala masing-masing. baik yang keracunan pun yang meracuni. Di sini bukan tempat propaganda walau kadang nama-nama mungkin akan singgah dengan sendirinya, menempati maqam-nya masing-masing.

Catatan perjalanan dan segala yang dianggap sepele, yang sering luput karena keabaian terhadap hal kecil mungkin juga akan termuat di sini, akan dibuat sepele, biasa atau mungkin berlebihan yang sebetulnya tetap dalam kewajaran. bukankah kewajaran itu sebuah pemandangan yang selalu tampak luar biasa jika dipandang dari tempat yang tak biasa.

salam, jabat-erat selalu

~Peracik Racun~

Kangen

aku pikir terlalu berlebihan ungkapan sayangku padamu
namun yang kurasa selalu kurang untuk menyayangimu

meski kita memiliki bahasa yang bukan kata-kata, tapi
untuk mengucapkannya, kita masih butuh dan memakai
kata-kata

Rembang, Januari 2012

Tentang Sebuah Mata

; rk

sebelumnya aku sudah tak ingin
menulis puisi tentang sebuah mata
sebab tak sekali pernah aku tuliskan
mata-mata kujadikan tempat memulai puisi
menenggelamkan tuhan dalam pedalaman wingit
di kejauhan jarak tak kukenal

barangkali aku nelayan terjerat di tengah laut jauh
matamulah menara suar yang tampak di kedekatan
; pendar angan-angan tentang halusinasi daratan
gambaran luas dari kedipan sekejap-kejap

baiknya kuakui,
tak sekalinya ini aku tersangkut mata

memang tak ada tapi yang bisa menjamin pasti
namun matamu tanpa ragu telah membuatku
tak ingin mencari alasan, tiada pengecualian
mengapa aku harus tunduk; takluk tanpa perlawanan
saat pandangku bertatap diam matamu

maka sekadarnya aku tulis kata-kata
yang bermunculan dari matamu
membanting makna, melumat tafsir
bersusah-sungguh menjelma kemiripan puisi
sebab puisi bukan hanya sesaat
sebab puisi memetakan yang sesat

sedang aku tak perlu waktu lebih dari sekejap
untuk tersangkut pada langit semu biru matamu

dan tak lebihlah aku dari nelayan sesat dijala laut
selamat pada harapan mercusuar matamu

jika puisiku memang hanya sesaat
jika semua kata-kata ini masih tersesat
sudikah kiranya puan memberi kedip
membisikkan bahasa yang bukan kata-kata
tentang alamat peluk yang bakal selamat

Rembang, Agustus-November 2011

#1

sering kita merutuk
di tengah jalan yang pelan sungguh,
meremas cemas dalam adonan kental
angin dan hujan.

aku coba mengingat
kapan terakhir air meluncur bebas
membasahi tubuh-tubuh kerontang
mahluk yang mendiami bumi mimpi kita.

tak perlu merekam lebih dalam
luka yang dangkalnya tak lebih
dari mata kaki.
tapi luka semacam itu
yang mampu membuat kita
berhenti mengurungkan langkah

kita tak butuh tandon air,
jika rimbun semak dan pohon-pohon
masih utuh di lereng-lereng dan perbukitan.

ingin kutanam pohon-pohon di kantung matamu,
biar deras air yang mengucur
dari penghujan matamu tak longsorkan
bukit mimpi yang kau pandang.

Tembalang, 2011

Yang Menelan Pintu Sebelum Ketukan Itu Sampai ke Daunnya

—buat Leonita Christy da Silva

 kulayangkan padamu kabar tanpa kekaburan
tentang segala samar yang belum pernah kaudengar
akankah kautahu seperti apa tanah kelahiran air mata?
apa seperti cinta yang tak mau ngerti kebingunganku
saat tenggelam di pelupukmu yang geming

seperti pintu yang lindap pelan, saat lengan
kuayunkan menyapa gapura pura telagamu
kau menelan pintu sebelum ketukan itu sampai
ke daunnya. sedang niatku, tak pernah cukup
memberitakan arti tentang ketukan
yang aku maksud

kau tak lebih sejengkal dari kekal hari yang selalu kembali
pagi, lalu kembali pagi lagi dan seterusnya dan semestinya
dalam ingatku, di pandam rasa yang berkait simpul
di tetak mata mata waspada yang kelewat curiga
harusnya aku sudah lelah dengan sejengkal itu, berkali ulang
kukayuh sepedaku, namun jarakmu masih terlampau.
barangkali, kelewat dan terlambat jadi jawabnya

kuharap kau beri aku waktu, dengan
coba kau buka tanganku, kuterbangkan dua
merpati putih dari garis garis pipimu yang mungkin
tertarik pelan, perlahan karena sudut bibirmu menciut
dan saat itu nyaliku ngerucut, meruncing
mengancam merpati yang terbang
melewati mukamu, menakuti matamu
yang awas dan waspada padaku, kuakui
kalau niatku tak cukup garang
untuk kau tahu, tentang ketukan
yang aku maksud

2010

Solilokui 1

Saat aku sendiri, aku sering melihat dua orang sedang beradu kuat saling tarik menarik dan tolak menolak sekaligus, seperti dua kutub magnit yang sama yang sedang bermain tarik tambang. Dua orang itu mirip sekali dengan diriku, tapi tiap kuperhatikan lagi malah aku yang mirip mereka berdua, aku tak yakin apa aku paham kalau mereka ternyata sama miripnya seperti aku yang mirip dengan mereka. Mereka berdua masing-masing seperti punya ingin yang sama kuat, yang satu ingin pulang dan satunya ingin pergi, yang satu mengajak menang dan satunya lagi menyerah, dan dua-duanya tak ingin sendirian mewujudkan keinginannya. Aku jadi penasaran, kutelusuri jejak mereka satu persatu, mencari tahu darimana mereka berasal, kenapa selalu saja kujumpai saat aku sendiri atau merasa sendiri meski di tengah keriuh-raimaian, saat kususur jejak mereka aku melihat pangkal mereka berasal, ternyata yang satu berasal dari kepala dan satunya lagi dari dadaku.

Rembang, Agustus 2011

Aku MenemukanMu

Aku menemukanMu
bersembunyi
di sebuah situs berita
saat koneksi internetku
jatuh sekarat
dalam headline
yang menunjuk arah
lebih parah
dari kabar
yang diwartakan
dengan tak sengaja
kubaca pesanMu,
aku tak paham
tapi sejak purba
komunikasi kita
hanya searah,
padahal aku
ingin sekali kau bisa
menjelaskan pesan itu
atau setidaknya
mengajakku chatting
meski hanya dengan
satu sapa “hai”
dan aku
akan hilang dalam
ketiadaan
paling nyata.

aku menemukanMu
sebagai berita yang
hanya bisa
aku komentari,
kumaki-maki
seperti kata
-kata yang diam
aku apa-apakan

Ulang Tahun Kata; Ulang Tahun Kita

Buat Mas Bambang Purnomo

kita bermula dari kata berasal dari kita yang memilah duka bahagia dan menempatkannya di wadah berbeda. baringkan saja apa-apa yang yang membuat duka kata-kata berdiri, lalu dirikan bangunan dari kata semoga di perulangan tahun ini dan seterusnya, dan kunyanyikan lagu ulang tahun dari bahasa kata-kata, dan kau tiup api di lilin-lilin yang mengundang laron-laron seusai hujan dari air mata; dari sepi kita pulang kembali ke sunyi.

barangkali itu semoga, kata-kata bersukma doa mencipta mimpi yang membuat langkah kaki tetap terjaga, meski sesekali harus berhenti dan menendang-nendang dinding-dinding gelap tak berpintu, barangkali semoga, yang mencipta arah di dalam kepala siapa saja tentang alamat yang entah benar ada atau diada-ada. dan barangkali semoga, debu-debu terbang dari penjuru mata angin menuju sarang tempat nurbuat segala duka dan bahagia; dada-dada manusia yang senantiasa membaca; membaca kata-kata dari ingatan yang ringan menjelma debu-debu kata-kata.

Rembang, 30 Juli 2011