Maitreya

–The next Budha

Seperti apa anak-anakku
saat usia mereka lebih dari
delapan puluh ribu tahun,
sementara puluhan tahun yang ini
sunyi bukan main kepalangnya.

Seberapa lapang sunyi
membatukan jaring laba-laba
dan sayap kupu-kupu
serta warna bulan perak kelak
masihkah sama dengan yang sekarang.

Gadis-gadis menghilangkan lajangnya
di usia lima ratusan, dan dunia tercipta
hanya dari bahan kebaikan

Maitreya, dharma macam apa
yang menjelma segala kebaikan
tanpa harus ada keburukan
untuk bisa membedakannya

Tak ada rumah yang terkunci
semua yang dimiliki
adalah milik bersama.

Seberapa tinggi rumah
jika tinggi manusia rata-rata
seratus enam puluh kaki

alangkah sempitnya bumi ini
kupu-kupu berpindah kota
hanya dengan sekali kepakan sayapnya

Dan seperti apa puisi-puisi kelak
di masamu, Maitreya?
Masihkah setiap kata
menyiksa molek tubuhnya sendiri
dengan luka-luka pura-pura?
Atau setiap kata
saling berkait simpul bahagia
seperti dalam sutra-sutra
yang membuatku menunggumu
dengan berjuta-juta pertanyaan?

Tuban, 2011

Perempuanku

wanita yang selalu perawan
walau seribu kali bercinta
terluka
dan
melahirkan

sebab duka
selaput di rahimnya

Jakarta, 2010

Kota yang Kuciptakan

Kuciptakan kota-kota yang jauh namun selalu jauh lebih dekat dari segala macam jarak. Kota yang selalu baru tapi berkarat di setiap sudut-sudutnya, kota yang dihuni bayang-bayang peristiwa lampau yang terangnya lebih dari lampu-lampu. Kota yang semua moyang terus hidup dan rajin bercerita tentang kisah kota-kota dari pandam pekuburan mereka.

Kuciptakan kota-kota itu dalam satu kepala yang selalu ingin singgah di kepala-kelapa yang lain, kubangun tempat penyimpan risalah nama dan sejarah peristiwa di setiap kotanya. Kubuat penduduk dari segala benda yang duduk berpangku tangan sampai yang menolak buat tunduk. Kubuat aturan-aturan yang tak berurutan pahamnya.

Dari kota-kota yang kuciptakan, kusatukan kesemuanya dengan kubangan bangunan yang tak mau bangun. Kuciptakan kota bukan dengan bangunan gedung dan jalan-jalan batu, kuciptakan kota-kotaku dengan hutan dan jalan-jalan kenangan yang menuju satu alamat, yaitu muara harapan. Kuciptakan hujan dari uap airmata yang menggumpal membuat awan angan-angan. Kunamai kota-kotaku itu dengan kota mimpi yang tercipta dari ingatan, agar setiap pengunjung dan penduduknya paham, dan ingat pada mimpi-mimpi dan segala hal yang sudah dilupakan.

Pasar Senen, 2010

Penyesalan

kehilanganmu seperti kehilangan puisi yang baru jadi, dan jadilah aku penyair yang dirundung duka paling ngeri, meregang nyawa lewat kematian paling menyedihkan, bukan tak dimengerti, bukan pula dipahami, bahwa perihal kehilangan adalah perih yang dimasak peri-peri duka di tungku luka.

Dengan mencintaimu aku telah belajar menyederhanakan waktu, menyekujurkan jarak, menerima kehilangan diriku untuk menjadi dirimu, lalu langit seketika jadi atap-atap yang bisa kita jangkau dengan mimpi dan harapan yang lahir dari setiap janji di percakapan kita.

Namun untuk kehilanganmu, aku tak akan bisa mengerti mengapa perpisahan selalu pandai mencari celah, meski segala upaya dan hal-hal sederhana telah kupahami, tapi duka kehilanganmu tetap tak kumengerti.

Yang aku mengerti, aku terlalu lalai pada keangkuhan diri sendiri; kemauan yang tak tahu diri dan aku masih mencintaimu dengan segala rasa nyeri yang lahir berbarengan dengan rinduku padamu.

17 Mei 2011

TELAH TERBIT: Halaman Rumah; Sekumpulan Sajak Yayan Triyansyah

TELAH TERBIT: Halaman Rumah; Sekumpulan Sajak Yayan Triyansyah

Mulai 02 Februari 2011, buku ini bisa dipesan melalui akun fb: Yayan Triyansyah (http://www.facebook.com/triyansyahii1) twitter: (@rozaqtriyansyah ) saya, atau email: y.triyansyah@yahoo.com atau meninggalkan koment di bawah inidengan menyertakan alamat lengkap.

 

 

 

 

 

Beberapa testimoni/endorsement:

“Yayan memetik buah-buah puisi di halaman Semarang, Rembang, Eloprogo, Cirebon, Jakarta, dan Batam dalam rasa serba renyah nan rekat tanpa tercicip rasa cabe Chairil, garam Rendra, terasi Afrizal, micin Jokpin, apalagi tepung kanjinya Tardji karena memang buah-buahnya matang di batang pikiran dan perasaannya; tanpa perlu dimasak-dibumbu. Buah-buah itu akan mengajak kita pulang ke rumah masing-masing, dan menemukan buah-buah puisi kita sendiri.”
[Gus Noy, penikmat sastra, asal Bangka tinggal di Balikpapan]

“Ini endorsment dari saya, saya menikmati puisimu, selamat untuk kumpulannya. Salam hangat,”
[Esha Tegar Putra, Penyair tinggal di Padang]

“Yayan mencoba mencari-cari gaya pengucapannya sendiri. Mencoba mencari bentuk lain dari perspektif peristiwa yang sampai dan yang terbaca oleh dirinya. Membaca kumpulan puisi “Halaman Rumah” ini, seperti bertandang ke halaman pencarian penyairnya yang penuh kejutan-kejutan…”
[Bode Riswandi, Penyair tinggal di Tasikmalaya]

“Energi puitis Yayan sepertinya tak habis-habis menggeluti kata yang mungkin rumit dicerna. Kalimat panjang bertumpuk tanpa tanda baca, mungkin membuat pembaca akan kesulitan memahaminya dengan cara scaning”
[Nanang Suryadi, Penyair yang Dosen, tinggal di Malang]

“Halaman Rumah Yayan adalah sebuah sudut tempat ia bermain. Sajak-sajaknya melemparkan kita pada berbagai ingatan. Ada sketsa tentang rindu, kepedihan dan keindahan cinta, hingga halaman sunyi tempat bertapa Sang Penyair. Lewat sajak yang sederhana, penyair membawa persoalan yang tidak sederhana”
[Hanna Fransisca, Penyair dan Prosais tinggal di Jakarta]

“Beberapa sajak Yayan dalam buku ini, sampai pada saya seperti gumam, serupa igau, mungkin desah, terkadang lenguh dan juga keluh. Namun, di saat lain menjelma kisah, memeram serpih-serpih petuah, yang terasa sangat halus, hampir samar. Menikmati sajak-sajaknya, seperti menghayati tegukan demi tegukan arak, yang perlahan menggapai puncak nikmat, kemudian tanpa sadar berkubang dalam kemabukan kata-kata…”
[Wayan Sunarta, Penyair, menetap di Bali]

“Puisi-puisi Yayan berada di antara lalu-lintas teks digital dan teks konvensional (cetak) yang seperti jalan protokol pada pukul 07.00 di kota-kota besar negeri ini. Mungkin, ia adalah pedagang asongan di lampu merah, pengemudi mobil mewah yang tiap sebentar membunyikan klakson, pengendara motor yang menyalip, pemabuk tertidur di trotoar jalan, polisi lalu-lintas meniup pluit, seorang penumpang bis kota yang sesak dan berusaha sabar dengan membayangkan menyusuri jalan tanah pedusunan berembun sambil mendengar lagu The Passenger mengalir dari iTunes. Atau mungkin, ia adalah penumpang bis kota yang (mendadak) jatuh cinta pada penumpang di sebelahnya.”
[Y. Thendra BP, Penyair yang Feminum]

————————————————–

Copyriht©Yayan Triyansyah
Cetakan Pertama: Januari 2011
Penata Letak: Anindra Saraswati
Desain Sampul: Day Milovich
Penerbit: Indie Book Corner
Harga: Rp 34.900,- (XVI+72 Hlm. Bookpaper)
ISBN:
978-602-97441-5-6 

 

karena keterbatasan cetak buku ini, sementara untuk cetakan perdana belum beredar di toko buku. untuk pembelian langsung di sini melalui account saya, (belum termasuk ongkos kirim). Kirim pesan pemesanan dan alamat yang dituju di INBOX FB saya ( http://www.facebook.com/triyansyahii1 ) atau email : y.triyansyah@yahoo.com atau lewat koment di bawah. Buku akan dikirim melalui Pos/ Tiki/ JNE. Pembayaran melalui transfer ke rekening:

BNI KC UNNES SEMARANG
0113462356
a.n. ROZAQ TRIYANSYAH

BISA DIPESAN melalui inbox fb saya atau via email: y.triyansyah@yahoo.com atau meninggalkan koment di bawah ini

*Dengan memesan ke penulisnya langsung (saya), teman-teman akan mendapatkan tanda tangan saya (jika dirasa perlu) juga sangat membantu dan menghargai kesejahteraan penulis. :D

Salam hangat
Yayan Triyansyah

Anestesi

Jika kau patah hati maka bukalah buku puisi untuk menghilangkan rasa sakitnya, mendinginkan didih pada pedih yang dimasak peri-peri perih di tungku duka.

Jika kau jatuh hati, maka buka buku puisi, ambil sari-pati terbuang dari kata-kata yang menor, semacam pelacur tua yang menimbun make-up-nya hingga ketebalan beberapa inci dari dasar kulit wajahnya.

Jika kau kecewa, maka tak ada anestesi lebih ampuh selain berjalan dalam kekacauan. Lalu tulislah puisi, seakan kau selalu baru merasa patah hati dan jatuh cinta lagi. Tumpuklah tiap lembar yang kamu tulis, sampai pada suatu jumlah halaman lalu beri judul “Anestesi; Kitab Kekecewaan”

Jogja, 2010

Pengakuan

Aku jatuh hati padamu dengan caraku,
cukup itu saja yang kamu tahu!

Yogyakarta, 2010